Agu 02 2012
Para Atlit Badminton itu Tidak Sportif ???

Hm…sejak kemarin, berita mengenai diskualifikasi 4 pasang ganda putri badminton di ajang Olimpiade London membahana di hampir semua media massa internasional. 4 pasang itu, 1 dari China, 2 dari Korea dan 1 dari Indonesia, yakni pasangan Meiliana Djauhari/Greysia Polii. Mereka sengaja mengalah dalam pertandingan agar terhindar dari musuh yang lebih berat atau terhindar dari harus bertarung dengan rekan senegara pada babak selanjutnya. Pada saat itu mereka bertanding dalam fase penyisihan group yang memakai sistem ’round robbin’ (1/2 kompetisi). Dan juara beserta runner-up group akan disilang dg juara dan runner-up group lain dalam sistem gugur di babak 16 besar.
Saya amati, semua berita yang saya baca/lihat/dengarkan mengecam para atlit badminton itu sebagai tidak sportif dan telah menodai semangat olahraga dan semangat Olimpiade. Bahkan tidak kurang yang mengecam dengan kata-kata sangat kasar, khusus-nya dari orang-orang ‘Barat’, tak jarang yang menggunakan ‘F’ word, “F@&king cheaters”, dan sejenisnya.
Dan bahkan beberapa atlit badminton juga ikut-ikutan mengecam, termasuk atlit badminton nasional kita (mantan).
Sorry ya temans, saya tidak sependapat sama sekali dengan kecaman-kecaman itu. Menurut saya, yang para atlit itu lakukan sah-sah saja. Mereka bertanding bukan hanya membawa nama pribadi, tapi juga negara. Dan tentunya negara menarget-kan para atlit-nya untuk meraih medali sebanyak-banyak-nya. Jadi, buat apa saling berhadapan dengan teman senegara, saling menyingkirkan, jika masing-masing memiliki peluang untuk merebut medali ? Menurut saya, justru akan terkesan ‘naif’ (jika tidak boleh dibilang ‘konyol’) untuk menyingkirkan rekan senegara yang juga berpeluang meraih medali, jika hal itu bisa dihindari.
Memang, dalam hal pertandingan dengan upaya ‘mengalah’, maka yang paling dirugikan adalah penonton, yang sudah membayar ticket dan berharap menyaksikan pertandingan seru. Oleh karena itu, seharusnya penyelenggara pertandingan harus memastikan sistem pertandingan agar upaya mengalah itu tidak akan dilakukan, dan itu sebenarnya mudah saja, misalnya, setelah diperoleh juara dan runner-up dari masing-masing group, ke 16 atlit (pasangan atlit) di babak 16 besar tersebut diundi lagi siapa lawan masing-masing di babak dengan sistem gugur itu. Jadi, tidak ada atlit (pasangan atlit) yang bisa berhitung di babak penyisihan group (yang menggunakan sistem 1/2 kompetisi atau ’round robbin’), siapa lawan mereka di babak 16 besar (yang menggunakan sistem gugur).
Dengan apa yang terjadi kemarin, seolah ‘ketidakmampuan’ penyelenggara pertandingan memastikan sistem pertandingan yang ‘fair’ dikambinghitamkan kepada para atlit yang kemudian didiskualifikasi itu. Justru itu yang tidak ‘fair’ bagi para atlit tersebut.
Dari sisi lain dalam kasus itu, yang di media internasional ada yang memberi judul “olympic badminton scandal”, cukup banyak orang Indonesia yang mengecam pasangan Meiliana Djauhari/Greysia Polii. Padahal pasangan itu tidak pakai doping, tidak menyuap wasit, tidak meracuni lawan…..yang mereka lakukan hanya ‘mengalah untuk menang’, untuk menjaga peluang meraih medali, untuk kebanggaan bangsa dan negara Indonesia. Bukankah justru ‘konyol’ jika dengan pede-nya mereka memenangkan pertandingan itu dan kemudian menghadapi lawan yang jauh lebih kuat dibanding lawan yang akan dihadapi mereka jika mereka kalah, padahal mereka sudah tahu kondisi itu sebelum mereka bertanding ??? Jelas ini kesalahan sistem pertandingan, bukan kesalahan atlit.
Ada satu sisi lain yang menarik perhatian saya. Setelah diskualifikasi itu diumumkan, pelatih kepala team China, Li Yong Bo, langsung mengatakan bahwa dia bisa menerima keputusan itu dan bahwa itu adalah kesalahan dia sebagai pelatih kepala, bukan kesalahan atlit-nya ! Sayang saya belum mendengar komentar serupa dari pelatih team Indonesia…
Semoga kasus ini segera menyulut pembenahan sistem pertandingan di cabang olahraga badminton, agar badminton tetap diminati publik internasional, agar tetap dipertandingkan di Olimpiade dan agar tidak lagi ada pengkambinghitaman atlit…..
Olahraga adalah kompetisi, apabila kita kehilangan elemen kompetisi itu maka semuanya menjadi nonsense. Nama baik bangsa dikorbankan atas nama taktik & strategi demi \’prestasi\’ (=materi)? Hadeuhhh☹
Curang, tetep aja curang.
@atlet petak umpet…..terima kasih komentarnya. Rasanya yang mereka lakukan belum termasuk kategori \’curang\’, lho…
@Syarif…..benar sekali. Oleh karenanya penyelenggara pertandingan harus membenahi sistem pertandingannya agar iklim kompetitif dan fairness tetap terjaga. Terima kasih komentarnya.
olah raga perlu sportivitas, jika tidak mengurangi semangat olahraga itu sendiri, thanks
@titanic…..setuju 100%. Terima kasih ya telah sudi mampir…
saya setuju dengan postingan ini
coba lihat di cabor sepakbola
mengalah sering kali dilakukan misalnya untuk tidak menjadi juara grup sebuah tim menurunkan lapis ke2. bedanya tidak terlalu mencolok spt sbuah pertandingan bulutangkis
tp ga ada yg mengecam
sy jga setuju ini adalah kesalahan BWF yg tidak menerapkan sistem gugur. seandainya sistem gugur yang digunakan, tak akan ada skandal ini
jujur saja memang china (khususnya li yong bo) terlalu sering \”mengatur\” hasil dengan macam2 strategi, dan parahnya BWF tak pernah menghukumnya.
bWF pun harus segera memperbaiki sistem
@depz…..terima kasih atas komentarnya. Ya, itu namanya strategi. Dalam segala hal, tentu kita perlu punya strategi untuk memastikan target pencapaiannya. Yang penting \’tidak curang\’. Anda benar sekali, bahwa sebenarnya \’stretegi mengalah\’ itu bisa dilakukan dengan lebih elegan, jangan terlalu menyolok…..
ya,,saya juga berharap pelatih dari indonesia juga mengatakan hal yang sama dengan yang pelatih china katakan..
format 1/2 kompetisi itulah akar permasalahannya.
Kalo gak salah, perisitiwa ini berawal dari strategi tim China yang berusaha menghindari rekan senegara bertemu di perempat final. ternyata strategi ini berimbas ke tim lain, yaitu tim Korea dan Indonesia yang menghindari pasangan terkuat…
Di dalam sebuah kompetisi, sportivitas di atas segalanya, baik apapun olahraganya, semuanya sama. Karena tanpa sportivitas, hilanglah esensi kompetisi.
Contoh dalam sepakbola yang menurunkan pemain lapis kedua demi pertandingan selanjutnya menurut saya tidak menghilangkan sportivitas, karena setiap tim memiliki 23 pemain yg terdaftar, maka ke 23 pemain tsb punya hak yg sama untuk bermain di setiap pertandingan, meskipun 11 pemain yg turun ke lapangan itu pemain muda tapi bila mereka masuk ke daftar 23 pemain tsb, hal ini sah2 saja (tentu saja dengan konsekuensi kehilangan poin penting bila seri atau kalah). Dan lagi mereka masuk ke lapangan dengan mental ingin menang, bukan mental ingin membuat gol bunuh diri :D.
Berbeda dengan kasus badminton london 2012 kemaren, pasangan China masuk ke lapangan bukan dengan mental ingin menang, tapi dengan sengaja bermain asal2an tanpa mengindahkan sportivitas (pemain sepakbola pun bila menendang penalti asal2an dapat hukuman). jadi saya rasa kurang setuju dengan sikap \”sengaja mengalah\” dalam olahraga. Karena sebagus2nya lawan menanti, di situlah kemampuan kita di uji.
Warm regards.
yep… setuju dgn tulisan ini…
Memang yg dilakukan para atlit itu \\konyol\\, tapi itu adalah untuk \\kepentingan bersama\\ mereka… Terlalu naif rasanya klo malah nyalahin atlit nya… Mestinya format pertandingannya yg dijaga supaya tidak bercelah spt ini…
norak melihatnya,ogah-ogahan…..akhirnya medali pun melayang
yang komen pasangan bermental tempe mungkin tidak peduli dengan atlit, mereka tentu saja berusaha mendapatkan medali, dengan mendapatkan medali mereka bisa mendapatkan bonus. kita kan tahu bagaimana nasib atlit kita setelah pensiun. tidak ada jaminan pekerjaan buat mereka dari pemerintah.
sah2 saja berpendapat demikian, TAPI ini tetaplah kesalahan dari atlit yang bersangkutan. sebagai atlit mereka dituntut untuk bermain sportif sesuai dengan kemampuan dan berkompetisi dengan sehat. Ini ada dalam sumpah/ pledge atlit..
malah menurut saya, pendapat anda2 yang menomorsatukan strategi untuk meraih medali lah yang terdengar sangat naif. mungkin sebagai orang awam, anda2 tidak di pacu dan di latih untuk berkompetisi dengan keras dan sehat..beda dengan atlit2 yang memang di tanamkan jiwa berkompetisi dan berjiwa sportif. jika ini di salahi, yaa mereka sudah sepatutnya di persalahkan.
sekali lagi, menang atau kalah bagi atlit adalah hal biasa. yang membedakan adalah apakah mereka sudah menunjukkan kemampuan mereka sepenuhnya dan sebaik2nya. demikian inti dari sportifitas
semoga kasus ini menjadi pelajaran bagi banyak atlit / calon atlit kita lainnya, dan masyarakat umum..untuk menjunjung tinggi sportifitas. bukan malah bermain-main jual-beli seperti berpolitik di negeri ini.
salam sportifitas
tim sepakbola apabila sudah pasti lolos atau lebih mentingkan target juara yang lebih bergengsi suka istirahatkan pemain intinya dalam hadapi suatu pertandingan?kenapa ga di cap curang juga??? ITU NAMANYA STRATEGI BRo..pemain hanya korban sistem oonnya BWF, yang tanpa diuji coba langsung diterapkan di event paling akbar di dunia, atlit ingin buat medali buat negaranya bukan pribadi saja. kalo bisa dapat 2 medali kenapa harus membunuh 1 negaranya dibabak awal?mereka juga cuma simpan tenaga hadapi sistem KO yang pasti musuhnya lebih berat. dalam turnamen, ga cuma pinter teknik/skill dilapangan tapi butuh strategi juga. kasian mimpi dan perjuangan mereka sia - sia dan malah dicerca. SALAHKAN SISTEMNYA!
Sangat disayangkan apabila masih ada masyarakat Indonesia seperti anda yang mendukung tindakan tidak sportif yang dilakukan oleh team bulutangkis Indonesia.
Bagi saya itu bukanlah sebuah strategi namun kecurangan yang bersembunyi dibalik \”strategi\”.
Seharusnya anda paham apa arti sebenarnya dari sebuah kompetisi.
Bila dalam sebuah ujian anda menyontek ke teman disebelah anda untuk bisa mendapatkan nilai yang baik, apakah itu disebut \”strategi\” atau berbuat curang?….
Atau dalam sebuah perlombaan lari 100KM dan anda mengambil jalan pintas dari jalur yang semestinya dan itu disebut sebagai \”strategi\” dan bukan berbuat curang?….
Untuk itulah kenapa dalam hidup yang dibutuhkan bukan hanya kemampuan secara fisik dan otak….. namun hati yang bersih harus menjadi sentral dari kedua kemampuan tadi.
Sangat disayangkan…… coba kalau kedua atlet bulutangkis dari indonesia itu bermain sebagaimana mestinya, tentu saja saat ini masih ada harapan dibandingkan kenyataan sekarang ini.
Mau dibawa kemana negara kita ini, dalam kehidupan sosial, politik bahkan olahraga sudah terkontaminasi mental kecurangan demi sebuah pengakuan.
Jauh lebih berarti anda pulang dengan kekalahan tapi punya kisah semangat dengan penuh perjuangan, dari pada kisah dari seorang pengecut….
Sayang sekaliiii…………
@badmintonlovers….
anda mengatakan sebagai pecinta badminton tapi justru pendapat anda akan menghancurkan olahraga yang anda cintai.
Sekarang saya tanya pada anda?…. apakah dalam sepakbola mereka menurunkan sebuah team dengan pemain lapis kedua itu mereka akan bermain asal-asalan atau dengan sengaja membuat gol bunuh diri?….
badminton tidak mengenal pemain pengganti dan pasti anda sudah tau ituuuuu………… dan itulah yang membedakan dia dengan sepakbola…..
sungguhh…. anda sama seperti dengan kebanyakan orang di indonesia, selalu saja menyalahkan sebuah sistem untuk sebuah kesalahan yang sebenarnya dia sadari….
@Kiki, @badmintonlovers……terima kasih banyak atas komentar-komentar-nya. Memang setiap manusia itu unik, tidak bisa disamakan dalam cara memandang suatu hal, karena latar belakang dan pengalaman masing-masing yang tentu berbeda. Sebenarnya, baik @Kiki, @badmintonlovers, dan saya sendiri memiliki pandangan yang mirip, yaitu bahwa yang namanya \’curang\’ adalah \’curang\’, seperti kata @atlet petak umpet sebelumnya.
Yang dicontohkan @Kiki, mengenai \’menyontek\’, \’memotong lintasan\’ (pada lomba lari) jelas adalah \’kecurangan\’ yang tidak bisa dibenarkan. Dan @badmintonlovers maupun saya sangat sependapat dengan itu. Yang membedakan kita adalah persepsi \’mengalah\’ yang oleh @Kiki dianggap sebagai sebuah kecurangan, sedangkan menurut @badmintonlovers dan saya bukan.
Cuma memang, \’cara\’ para atlit badminton itu dalam mengalah cukup vulgar, kurang elegan, sehingga banyak penonton yang kecewa dan bahkan sakit hati.
Coba, andaikata misalnya dalam lomba renang 100m gaya bebas. Atlit yang ingin mengalah cukup dengan memperlambat ayunan tangan atau dengan membuka jari-jari pada kedua belah telapak tangan saat melakukan kayuhan akan menimbulkan dampak kalah tanpa terlalu menyolok perhatian penonton, dan tidak terkesan \’vulgar\’.
Para atlit badminton yang didiskualifikasi itu-pun, seperti yang kita tahu, adalah para atlit papan atas dunia, bahkan yang dari China adalah peringkat 1 dunia dan seeded pertama di pertandingan Olimpiade ini. Mereka sudah malang melintang berkompetisi kelas dunia, digembleng dengan sangat keras, baik secara fisik maupun mental. Dan sikap yang mereka ambil dalam menghadapi pertandingan terakhir babak penyisihan group adalah seperti yang sudah kita ketahui bersama…
Apakah mereka curang ? Menurut @Kiki ya, tapi menurut @badmintonlovers dan saya tidak. Menurut saya, perbedaan pandangan ini sah-sah saja.
Lalu apakah saya mendukung \’kecurangan\’ ? Jelas tidak ! Apa yang menurut saya \’kecurangan\’ antara lain misalnya : memakai doping/obat peningkat kinerja tubuh, menyuap wasit, memakai raket atau senar raket yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang disetujui, memasukkan racun ke dalam minuman lawan, dan masih banyak lagi. Tapi dalam hal ini, mengalah bukan salah satunya. Mengalah, menurut saya, bukan sebuah kecurangan…
Salam…
MENURUT SAYA..ATLIT YG DIKIRM ADALAH YG TERBAIK,,SIAP BERHADAPAN DENGAN SIAPAPUN,,, KENAPA HARUS TAKUT..WALAUPUN BERHADAPAN DGN PEMAIN NO 1… KENAPA HARUS MENGALAH UTK MENANG,,TDK ADA ITUUUU… LIAT TIMNAS INDONESIA WKT MAIN SABUN LAWAN THAILAND,,APAAA AKHIRNYA KALAH JG LAWAN SINGAPURA,,,CONTOHLAH SPANYOL DI EURO KMREN GAK PERDULI ,,POKONYA SAPU BERSIH KEMENANGAN,,MAU BERTEMU SIAPA NANTI POKONYA DIHADAPI,,ITU MENTAL ATLIT YG HARUSNYA DIKIRM,,, JANGAN CEMEN APALGI TAKUT… NGABISIN UANG NEGARA AJAAAA…
maen sabun ngatur strategi kotor…tidak selamanya manjur ..Ingat THOMAS CUP 1998…China lebih milih Indonesia di semi final..( mungkin waktu itu china lagi keki ama indonesia )…dia ngalah sama Denmark di penyisihan grup…sialnya malah China tumbang sama Indonesia ……dan Indonesia tampil perkasa mengalahkan Malaysia di Final…..
orang bilang strategi mengalah untuk menang itu tidak sportif…kalau menurut saya malah menang untuk kalah itu yang TOLOL..ini sama saja ketika kita bermain catur, kita harus memakan umpan yang diberikan lawan..TOLOL?tentu…Sportif?tidak ada hubungannya, sportif itu tidak berbuat curang dalam pertandingan, dalam kasus bulutangkis ini saya tidak melihat ada kecurangan..hanya pemanfaatan celah yg diberikan..
Sama seperti dalam pekerjaan, ketika anda pindah kerja atau pindah divisi untuk mengejar kelanjutan karir dan gaji (walaupun gaji anda sebelumnya lebih besar).apakah anda bilang itu curang?lain soal ketika anda menjegal rekan kerja anda untuk karir….masih banyak contoh2 lainnya yg sebenarnya kita terapkan dalam hidup.tidak usah munafik bro, kita semua diberikan otak, justru tidak menggunakannya itulah yang menjadi kesalahan.
strategi dalam permainan itu adalah wajar, d dalam semua cabang olahraga, yang d sebut main sabun adalah untuk memperlancar jalan kemenangan dengan melihat siapa rival yang akan d hadapi, nah indonesia sadar bahwa china adalah rival terberat, sekarang PBSI harus robah sistem, dengan pembibitan dan pemupukan para atlit\’ kita agar lebih baik. jadi rival manapun sanggup kita hadapi tanpa ada strategi main sabun,….
memang udh dsarnya indonesia bangsa yg penakut,,,,,,,, bangsa yg berani itu,,,, tidak kenal takut melawan siapa pun,,,, mo moyang nya chines ke,,,mo dedengkot nya,,,ke,,,, klw berani smua disikattttt…….
Gimana sih, masa tindakan pemain badminton spt itu anda bela. Kembali ke soirit olimpiade atau event olah raga biasa, yg mensyaratkan atlet berjuang sebaik2nya…spirit itu diatas segalanya bahkan diatas kemenangan, karena apabila sorenag atlet benar2 memahami spirit tsb, kemenangan hanya bonus…apabila seluruh atlet bulutangkis melakukan tindakan nkotor spt itu, yang hancur adalah cabang bulu tangkis tsb…curang ya curang, gak ada levelnya, gak ada yg namanya curang dikit, curang banyak….atlet tugasnya berkompetisi dg sehat, dengan sebaik2nya, kita bukan Korut, yg kalo atletnya kalah bisa masuk penjara…..
Terus terang sedih sekali saya dg pendapat anda, saya analogikan dengan korupsi kecil2an uang negara, yg penting gak ketauan kl korupsi…itu analogi yg anda pake dg menggambarkan atlet renang yg mendayung lbh pelan spy penonton gak tau kl dia sengaja ngalah….makanya negara kita gak pernah beres, sifat sportivitas gak pernah tertanam baik…
My two cents…
setiap pertandingan harus pake strategi,,, jadi menurut saya sah-sah aja… tapi memang akan merugikan pihak lain ( penonton ). jadi memang sistem yang harus di rubah!!!
saya beranjak dari lingkungan olahraga, dan kenal sekali lingkungan olahraga badminton ini. Sudah sangat bisa di pastikan itu pelatihnya dan oficial menginginkan atlitnya untuk mengalah, dan saya kira atlitnya pun juga mengiyakan. Karena saya tau betul hal seperti ini banyak di turnamen nasional sekalipun. Akan tetapi, saya kaget jika mereka sangat berani melakukan ini di olimpiade. menurut saya pelatih dan oficial Indonesia terlalu bodoh dan arogan mengira bahwa komite olimpiade akan diam2 saja karena jika mereka mengeluarkan pemain2 tersebut jalan pertandingan jadi tidak bermutu lagi. dan PBSI pun masih terlalu bodoh jika mereka mengira mereka masih menghasilkan pemain berkualitas dan berprestasi, kita sudah tertinggal jauh, dan ya kita sudah bukan siapa2 lagi di olahraga Badminton. jika menurut anda terlalu naive jika kita menyalahkan mereka, justru pemikiran seperti anda lah yang merusak moral atlit Indonesia, seharusnya publik Indonesia mengajarkan dan menuntut sportifitas hal2 yang terbaik dari seorang atlit, terhormat dan membanggakan. jika anda dan yg lainnya memaklumi saja keputusan mengalah mereka, tak heran jika Indonesia tidak bisa menghasilkan atlit2 bermental juara yang tangguh.
@Sith…terima kasih atas komentarnya. Memang kita berbeda pandangan soal ini, yang menurut saya sah-sah saja. Korupsi adalah memakai sesuatu (bisa uang, waktu, fasilitas, dll) yang bukan hak-nya untuk kepentingan diri sendiri atau kelompoknya (termasuk utk keluarga, teman, kroni). Itu pengertian saya mengenai korupsi. Pertanyaannya, jika seseorang masuk ke lapangan tapi dia tidak mau menang, dia tidak mau ngotot, dia tidak mau membuang tenaganya…..apakah itu bukan haknya ? Dengan melakukan itu, dia akan mendapat \’hukuman\’nya yaitu kalah dalam pertandingan tersebut. Sejati-nya, \’kekalahan\’ adalah \’hukuman\’ bagi seorang atlit (apalagi yang sudah menghabiskan sebagian hidupnya untuk berlatih dan berlatih). Ini lah letak kesalahan sistem pertandingan itu. Bagaimana mungkin, seorang atlit yang kalah…kok malah senang ? Bagaimana mungkin seorang atlit justru ingin kalah dalam sebuah pertandingan ??? Inilah esensi sesungguhnya dari \’skandal\’ kemarin, yakni bagaimana BWF harus membenahi sistem pertandingan agar semangat sportivitas olahraga tidak tercederai akibat sistem yang \’aneh\’ (salah) itu. Thank you for your two cents. Salam.
biasa aja kaleee. strategi kek gini udah biasa dlm sistem 1/2 kompetisi.
kalo saya yg jadi para atlit itu, saya pun akan berbuat yg sama (saya yakin temen2 yg contra pun akan begitu) jadi penyelenggara seharusnya lebih pinter lagi..
soal sportivitas? mereka udah berjuang mati2an utk sampe ke jenjang itu dan saya yakin ntar di partai berikutnya mrk pun akan bermain sebaik2nya.
gitu aja repot.. salam buat yg contra .. (anda terlalu sok sportif tanpa tau artinya..)
Buat pak Paulus BS yang dengan konsisten membela kejadian ini demi (mungkin) pencapaian medali emas, saya hanya ingin memberi masukan saja.
Apabila dalam pertandingan ternyata kedua team yang bertanding sama-sama tidak ingin menang, apa yang harus anda lakukan?
Saran saya, lebih baik kedua team berdiskusi diluar lapangan untuk menentukan hasil pertandingan sehingga penonton di lapangan maupun yang melalui layar TV tidak akan menunggu suatu pertandingan yang seru.
Badminton bukanlah jenis olahraga yang sekelas Sepakbola atau Basket, jadi yang perlu dijaga adalah nilai jual nya dengan bermain sportifitas. Kalau tidak, Badminton mungkin akan dihapus dari daftar jenis olahraga yang dipertandingkan di Olympiade.
makanya kalo bikin system pertandingan yang valid, agar tdk bs di
bs di licinkan pake sabun.
sekelas olimpiade kok bikin system sembarang saja. ujung-ujungnya si atlit yg jadi korban.
Teman-teman…saya sangat berterima kasih pada teman-teman yang berkenan mampir dan memberikan komentarnya mengenai topik ini. Saya mendapatkan banyak manfaat dan sudut pandang yang bagus.
Namun ada sedikit komentar (sekitar 3 buah) yang terpaksa tidak saya \’approve\’ karena menurut saya \’kurang layak\’ ditampilkan, khususnya karena bahasa yang digunakan cenderung kasar dan bahkan ada yang \’mengatai\’ pemberi komentar lain.
Perbedaan pandangan/pendapat adalah hal yang biasa. Berargumentasi juga adalah hal yang biasa. Seharusnya, dan saya yakin, sebagian besar pembaca blog (apapun) bisa menghargai perbedaan dan menghargai argumentasi…
Semoga 3 orang pemberi komentar itu bisa memaklumi hal ini. Sekali lagi, saya ucapkan penghargaan dan terima kasih bagi teman-teman yang telah berargumentasi dengan sehat di sini.
Salam…
Pertanyaan saya : \”adakah aturan di pertandingan tersebut yang menyatakan bahwa, pemain atau tim yang secara sengaja mengalah maka akan dikenai sanksi/diskualifikasi\”. Kalo aturan tersebut ada, ya sudah ga perlu di bahas lagi. Berarti pemain yang di diskualifikasi tersebut curang karena melanggar aturan..
Kiki..
Saya sependapat dengan anda tentang sportifitas, tapi mohon maaf banyak percontohan yang tidak sesuai dengan apa saya maksudkan. maksud strategi tidak sperti itu, atlit cari medali tidak skedar menang habisin tenaga jor2an, uda lemes musuh kuat menanti, ya kalo sistemnya kayak gitu mending hemat tenaga buat pertandingan berikutna dengan rentang waktu yang pendek, masalah dianggap pilih lawan itu bonus dari 2 x kemenangan/kerja keras sebelumnya. dan untuk juara yang harus melalui pertandingan berikutnya yang pasti musuh lebih kuat, toh kedepan kalo uda sistem KO pasti akan habis2an.
Saya ga belain atlit, tapi saya lebih sorotin sistemnya yang mudah2an ditinjau ulang, kembali sistem gugur, agar kedepan bisa menyaksikan pertandingan badminton yang all out, panitia, pemain, penonton dan negara tidak ada yang dirugikan (kalo badminton masih diikutsertakan).
Atlit yang ingin medali, negara yang berharap prestasi, penonton yang ingin tontonan seru, semuanya berantakan karena sistem baru yang tak teruji. kenapa ga diuji coba dulu diajang lebih kecil ga langsung di pakai diajang seakbar olimpiade. sdh bagus dulu uji coba dulu penggantian sistem skor dari 2 x 15, 3x 7 s/d 2 x 21 reli point..
Terus terang saja … untuk yang belum tahu, ternyata hal seperti ini sudah menjadi hal yang \’umum\’ di beberapa cabang O.R.
Saat berlangsung PON beberapa waktu yang lalu, seorang teman pernah berdiskusi sengit dengan salah satu pelatih di bidang atletik, karena ternyata di beberapa cabang atletik sudah menjadi \’rahasia umum\’ bahwa pemenang itu \’dibagi rata\’ sesuai kesepakatan antara beberapa kontingen.
Alasannya sepele :
- atletik tidak punya jadwal kompetisi yang rutin, seperti badminton, sepakbola atau tenis, malah ada yang ikut lomba hanya untuk PON (4 tahun sekali !!), sehingga uang pembinaan (baca : pendapatan) atlet pun tidak menentu.
- karena alasan jarang kompetisi, maka sangat sulit diharapkan ada peningkatan prestasi di nomor2 tertentu. Akhirnya yang dihitung adalah \’jumlah medali\’ yang ujung2 nya berdampak ke bonus yang diterima (baca : penghasilan)
- maka untuk menjaga \’solidaritas sesama atlet\’ … diaturlah hasil lomba supaya merata medalinya untuk nomer2 tertentu …
Kenyataan pahit memang … tapi nampaknya itulah yang terjadi …
Seperti pernah di sampaikan seniornya, Susi Susanti, tak perlu menghindari lawan. Juara sejati harus siap berhadapan dengan siapa pun. Memang pemilik komentar itu telah mengalahkan semua pemain terbaik bulutangkis putri dunia di eranya. Nah, masih menurut Susi, pada akhirnya anda akan berhadapan dengan pemain terbaik, di sanalah kemampuan diuji.
Cabang bulutangkis diprediksi hanya akan aman sampai Olimpiade 2016. Sejumlah alasan yang menjadikan bulutangkis dievaluasi Komite Olimpiade Internasional (IOC) adalah dominasi China di semua nomor, skandal main mata empat pasangan ganda putri, dan semakin rendahnya rating televisi maupun peliputan media pada cabang tersebut.
Setelah Olimpiade 2016, posisi bulu tangkis akan dievaluasi. Artinya, belum tentu bulu tangkis akan ikut ambil bagian pada Olimpiade 2020. Komite Olimpiade Internasional (IOC) memang akan melakukan evaluasi terhadap keberadaan Bulu Tangkis paska Olimpiade London 2012. Di samping tidak berkembang atau didominasi satu negara, scandal kemarin juga menjadi pertimbangan. Rugi dech kita….
Wajar tanpa pengecualian karena bagian dari strategi untuk meraih kemenangan, yang tidak fair adalah sistem pertandingannya dan panitianya. Untuk sekelas olimpiade seharusnya mereka sudah tahu resiko sitem pertandingan akan terjadi seperti itu.
kelak kalo mau mengalah, kendorkan senar raket, jadi pukulannya kurang akurat, mainnya sungguh2
Hmm,.. kalau berbicara mengenai sistem yang diterapkan pada cabang Bulutangkis dalam Olympiade kemarin, memang sangat memungkinkan terjadi hal seperti ini. Semua pihak, baik para atlet, pelatih official, PBSI, maupun pihak-pihak yang membuat sistem itu sendiri (BWF), panitia Olypiade yang memutuskan untuk tidak lagi menggunakan sistem gugur, pasti sudah bisa mengetahui bahwa kemungkinan ‘main sabun’ bisa saja terjadi. PBSI bisa membaca situasi seperti ini, sudah pasti BWF juga bisa, namun kenapa sistem seperti ini tetap digunakan dalam Olympiade, meskipun baru pertama kalinya? Strategi dalam sebuah olahraga memang perlu, bahkan strategi itu sebuah elemen penting untuk memenangkan sebuah pertandingan. Namun kembali ke kata ‘Olahraga’ yang sangat menekankan sportifitas, apalagi sebuah event Olimpiade yang memiliki semangat Citius, Altius, Fortius, setiap strategi yang digunakan oleh para Atlet, pelatih, maupun official dari negara manapun, dalam olahraga apapun, haruslah strategi untuk menjadi yg tercepat, tertinggi, dan terkuat. Siapapun lawan yg akan dihadapi, meskipun harus melawan rekan senegara, semangat ini harus tetap menjadi ‘jiwa’ dari setiap atlet atau negara yang bertanding. Mungkin ini yang menjadi landasan BWF ataupun panitia Olimpiade tetap menggunakan sistem baru ini dan tidak menggunakan sistem gugur. Saya yakin meskipun BWF ataupun panitia Olypiade menyadari bahwa sistem ini memiliki kelemahan, namun mereka tetap berasumsi bahwa setiap atlet yg bertanding pasti akan tetap berusaha menjadi yg terbaik, siapapun lawannya. Namun ternyata salah, kita kembali lagi ke ’strategi’ yang digunakan oleh tim bulutangkis Indonesia (saya tidak memusingkan strategi tim dr negara lain dlm hal ini). Tim Indonesia justru memanfaatkan kelemahan dari sistem ini, dan hal buruk seperti inilah yg terjadi. Kalau menurut saya jangan menyalahkan sistem yg digunakan, meskipun celah untuk melakukan strategi mengalah itu bisa dilakukan, seharusnya kontingen Indonesia menyadari bahwa sistem seperti apapun yg digunakan dalam event seperti Olympiade, dalam semua cabang olahraganya adalah tetap untuk mencari yang tercepat, tertinggi dan terkuat. Mental bertanding seperti inilah yg harus benar2 dipahami dan dilakukan, bukan saja oleh para atlet, namun juga para pelatih dan official Indonesia. Pergi bertanding dalam event olahraga terbesar sejagad raya bukanlah hanya masalah strategi bagaimana kita bisa membawa pulang sebuah medali demi keharuman nama bangsa, namun lebih dari itu, bagaimana proses sebuah medali itu bisa kita dapatkan atau terlepas dari genggaman kita. Dari sini jelas bahwa Tim Bulutangkis Indonesia salah menempatkan strategi, bukan salah menggunakan strategi yang akhirnya berbuah kartu hitam! (baru liat juga kartu hitam) sebagai orang Indonesia dan pecinta olahraga, saya merasa malu karna di dunia ini hanya sedikit negara yang pernah mendapatkan kartu hitam dari Olympiade, dan Indonesia salah satunya. Saya yakin, kalau kemarin, atau mudah2an kelak, tim Olympiade Indonesia tidak salah menempatkan strategi, dapat bertanding untuk menjadi yang terbaik, bertanding tanpa rasa takut menghadapi siapapun, memberikan kemampuan fisik dan mental terbaik, hasil apapun yg akan kita raih, kita dapat kembali dengan kepala tegak! Inilah ciri seorang Atlet sejati, ciri Juara sejati, kita semua tau itu. Mudah2an. -Regards-
apapun yg terjadi kita harus mendukung atlit kita, krna itu sudah terjadi. meskipun bagi saya, cara yang mereka gunakan itu tidak benar.
yang penting Lain kali jgan ada lagi yang seperti itu. ujung2 nya medali tdk dapat, yang ada malu besar…….. Istilah mengalah untuk menang akhirnya berganti menjadi mengalah untuk malu…..
akhirnya memang ada dua pendapat, yaitu setuju dan tidak setuju. dan dalam demokrasi berbeda pendapat itu wajar, dan pendapat seseorang tidak bisa dipaksakan.
jika kita berbicara mentalitas/ sportifitas tentu hal seperti ini adalah sesuatu yg tidak benar. kalaupun mau dipaksakan dengan bahasa “strategi”, mungkin ini strategi yg sangat buruk. Kenapa dikatakan sangat buruk, karena Panitia tahu jelas adanya indikasi mengalah demi melancarkan pertandingan berikutnya.
Dan mungkin saja jika pertandingan tersebut dilangsungkan di negara2 yg terlibat, sangsi diskualifikasi tidak akan terjadi.
Bukannya saya memuji2 bangsa eropa atau negara barat, tp kenyataannya mereka telah dan pernah melalui hal2 seperti ini. Kalaupun masih terjadi sangsinyapun juga berat. Contoh dalam sepakbola, Perancis Marseille era 90an dihukum ke divisi 2 (kalau gak salah) gara2 suap di final Liga Champion kontra AC milan. Calciopoli jilid 1 yg memakan korban juventus & beberapa klub lain. Bahkan liga Inggris kena imbas dikucilkan di eropa akibat tragedi Heysell yg mayoritas ulah fans Liverpool.
Kejujuran itu memang terkadang amat pahit untuk dikatakan dan dihadapi
atau
Cinta tidak selalu harus memiliki (nyambung gak ya???)
makasih yg punya blog dah boleh numpang corat-coret