Agu 02 2012

Para Atlit Badminton itu Tidak Sportif ???

Published by paulusbs at 14:08 under Opini

a7e6659b558d498057ed28b9f9029bbf_shuttlers_fixed_ties2_338x225

Hm…sejak kemarin, berita mengenai diskualifikasi 4 pasang ganda putri badminton di ajang Olimpiade London membahana di hampir semua media massa internasional. 4 pasang itu, 1 dari China, 2 dari Korea dan 1 dari Indonesia, yakni pasangan Meiliana Djauhari/Greysia Polii. Mereka sengaja mengalah dalam pertandingan agar terhindar dari musuh yang lebih berat atau terhindar dari harus bertarung dengan rekan senegara pada babak selanjutnya. Pada saat itu mereka bertanding dalam fase penyisihan group yang memakai sistem ’round robbin’ (1/2 kompetisi). Dan juara beserta runner-up group akan disilang dg juara dan runner-up group lain dalam sistem gugur di babak 16 besar.

Saya amati, semua berita yang saya baca/lihat/dengarkan mengecam para atlit badminton itu sebagai tidak sportif dan telah menodai semangat olahraga dan semangat Olimpiade. Bahkan tidak kurang yang mengecam dengan kata-kata sangat kasar, khusus-nya dari orang-orang ‘Barat’, tak jarang yang menggunakan ‘F’ word, “F@&king cheaters”, dan sejenisnya.
Dan bahkan beberapa atlit badminton juga ikut-ikutan mengecam, termasuk atlit badminton nasional kita (mantan).

Sorry ya temans, saya tidak sependapat sama sekali dengan kecaman-kecaman itu. Menurut saya, yang para atlit itu lakukan sah-sah saja. Mereka bertanding bukan hanya membawa nama pribadi, tapi juga negara. Dan tentunya negara menarget-kan para atlit-nya untuk meraih medali sebanyak-banyak-nya. Jadi, buat apa saling berhadapan dengan teman senegara, saling menyingkirkan, jika masing-masing memiliki peluang untuk merebut medali ? Menurut saya, justru akan terkesan ‘naif’ (jika tidak boleh dibilang ‘konyol’) untuk menyingkirkan rekan senegara yang juga berpeluang meraih medali, jika hal itu bisa dihindari.

Memang, dalam hal pertandingan dengan upaya ‘mengalah’, maka yang paling dirugikan adalah penonton, yang sudah membayar ticket dan berharap menyaksikan pertandingan seru. Oleh karena itu, seharusnya penyelenggara pertandingan harus memastikan sistem pertandingan agar upaya mengalah itu tidak akan dilakukan, dan itu sebenarnya mudah saja, misalnya, setelah diperoleh juara dan runner-up dari masing-masing group, ke 16 atlit (pasangan atlit) di babak 16 besar tersebut diundi lagi siapa lawan masing-masing di babak dengan sistem gugur itu. Jadi, tidak ada atlit (pasangan atlit) yang bisa berhitung di babak penyisihan group (yang menggunakan sistem 1/2 kompetisi atau ’round robbin’), siapa lawan mereka di babak 16 besar (yang menggunakan sistem gugur).

Dengan apa yang terjadi kemarin, seolah ‘ketidakmampuan’ penyelenggara pertandingan memastikan sistem pertandingan yang ‘fair’ dikambinghitamkan kepada para atlit yang kemudian didiskualifikasi itu. Justru itu yang tidak ‘fair’ bagi para atlit tersebut.

Dari sisi lain dalam kasus itu, yang di media internasional ada yang memberi judul “olympic badminton scandal”, cukup banyak orang Indonesia yang mengecam pasangan Meiliana Djauhari/Greysia Polii. Padahal pasangan itu tidak pakai doping, tidak menyuap wasit, tidak meracuni lawan…..yang mereka lakukan hanya ‘mengalah untuk menang’, untuk menjaga peluang meraih medali, untuk kebanggaan bangsa dan negara Indonesia. Bukankah justru ‘konyol’ jika dengan pede-nya mereka memenangkan pertandingan itu dan kemudian menghadapi lawan yang jauh lebih kuat dibanding lawan yang akan dihadapi mereka jika mereka kalah, padahal mereka sudah tahu kondisi itu sebelum mereka bertanding ??? Jelas ini kesalahan sistem pertandingan, bukan kesalahan atlit.

Ada satu sisi lain yang menarik perhatian saya. Setelah diskualifikasi itu diumumkan, pelatih kepala team China, Li Yong Bo, langsung mengatakan bahwa dia bisa menerima keputusan itu dan bahwa itu adalah kesalahan dia sebagai pelatih kepala, bukan kesalahan atlit-nya ! Sayang saya belum mendengar komentar serupa dari pelatih team Indonesia…

Semoga kasus ini segera menyulut pembenahan sistem pertandingan di cabang olahraga badminton, agar badminton tetap diminati publik internasional, agar tetap dipertandingkan di Olimpiade dan agar tidak lagi ada pengkambinghitaman atlit…..


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?




34 Responses to “Para Atlit Badminton itu Tidak Sportif ???”

  1.   Syarif S. Armanon 02 Agu 2012 at 16:41

    Olahraga adalah kompetisi, apabila kita kehilangan elemen kompetisi itu maka semuanya menjadi nonsense. Nama baik bangsa dikorbankan atas nama taktik & strategi demi \’prestasi\’ (=materi)? Hadeuhhh☹

  2.   atlet petak umpeton 02 Agu 2012 at 16:54

    Curang, tetep aja curang.

  3.   paulusbson 03 Agu 2012 at 05:58

    @atlet petak umpet…..terima kasih komentarnya. Rasanya yang mereka lakukan belum termasuk kategori \’curang\’, lho…

  4.   paulusbson 03 Agu 2012 at 06:01

    @Syarif…..benar sekali. Oleh karenanya penyelenggara pertandingan harus membenahi sistem pertandingannya agar iklim kompetitif dan fairness tetap terjaga. Terima kasih komentarnya.

  5.   titanicon 03 Agu 2012 at 06:31

    olah raga perlu sportivitas, jika tidak mengurangi semangat olahraga itu sendiri, thanks

  6.   paulusbson 03 Agu 2012 at 07:18

    @titanic…..setuju 100%. Terima kasih ya telah sudi mampir…

  7.   depzon 03 Agu 2012 at 07:34

    saya setuju dengan postingan ini
    coba lihat di cabor sepakbola
    mengalah sering kali dilakukan misalnya untuk tidak menjadi juara grup sebuah tim menurunkan lapis ke2. bedanya tidak terlalu mencolok spt sbuah pertandingan bulutangkis
    tp ga ada yg mengecam

    sy jga setuju ini adalah kesalahan BWF yg tidak menerapkan sistem gugur. seandainya sistem gugur yang digunakan, tak akan ada skandal ini

    jujur saja memang china (khususnya li yong bo) terlalu sering \”mengatur\” hasil dengan macam2 strategi, dan parahnya BWF tak pernah menghukumnya.

    bWF pun harus segera memperbaiki sistem

  8.   paulusbson 03 Agu 2012 at 07:49

    @depz…..terima kasih atas komentarnya. Ya, itu namanya strategi. Dalam segala hal, tentu kita perlu punya strategi untuk memastikan target pencapaiannya. Yang penting \’tidak curang\’. Anda benar sekali, bahwa sebenarnya \’stretegi mengalah\’ itu bisa dilakukan dengan lebih elegan, jangan terlalu menyolok…..

  9.   Obat Herbal Kanker Payudaraon 03 Agu 2012 at 08:12

    ya,,saya juga berharap pelatih dari indonesia juga mengatakan hal yang sama dengan yang pelatih china katakan..

  10.   Joko Son 03 Agu 2012 at 09:31

    format 1/2 kompetisi itulah akar permasalahannya.

  11.   Iyudon 03 Agu 2012 at 11:29

    Kalo gak salah, perisitiwa ini berawal dari strategi tim China yang berusaha menghindari rekan senegara bertemu di perempat final. ternyata strategi ini berimbas ke tim lain, yaitu tim Korea dan Indonesia yang menghindari pasangan terkuat…

  12.   blueon 03 Agu 2012 at 16:21

    yep… setuju dgn tulisan ini…
    Memang yg dilakukan para atlit itu \\konyol\\, tapi itu adalah untuk \\kepentingan bersama\\ mereka… Terlalu naif rasanya klo malah nyalahin atlit nya… Mestinya format pertandingannya yg dijaga supaya tidak bercelah spt ini… :)

  13.   yuswandion 03 Agu 2012 at 19:38

    norak melihatnya,ogah-ogahan…..akhirnya medali pun melayang

  14.   handokoon 03 Agu 2012 at 21:24

    yang komen pasangan bermental tempe mungkin tidak peduli dengan atlit, mereka tentu saja berusaha mendapatkan medali, dengan mendapatkan medali mereka bisa mendapatkan bonus. kita kan tahu bagaimana nasib atlit kita setelah pensiun. tidak ada jaminan pekerjaan buat mereka dari pemerintah.

  15.   badmintonloverson 04 Agu 2012 at 09:23

    tim sepakbola apabila sudah pasti lolos atau lebih mentingkan target juara yang lebih bergengsi suka istirahatkan pemain intinya dalam hadapi suatu pertandingan?kenapa ga di cap curang juga??? ITU NAMANYA STRATEGI BRo..pemain hanya korban sistem oonnya BWF, yang tanpa diuji coba langsung diterapkan di event paling akbar di dunia, atlit ingin buat medali buat negaranya bukan pribadi saja. kalo bisa dapat 2 medali kenapa harus membunuh 1 negaranya dibabak awal?mereka juga cuma simpan tenaga hadapi sistem KO yang pasti musuhnya lebih berat. dalam turnamen, ga cuma pinter teknik/skill dilapangan tapi butuh strategi juga. kasian mimpi dan perjuangan mereka sia - sia dan malah dicerca. SALAHKAN SISTEMNYA!

  16.   Kikion 04 Agu 2012 at 10:34

    @badmintonlovers….

    anda mengatakan sebagai pecinta badminton tapi justru pendapat anda akan menghancurkan olahraga yang anda cintai.

    Sekarang saya tanya pada anda?…. apakah dalam sepakbola mereka menurunkan sebuah team dengan pemain lapis kedua itu mereka akan bermain asal-asalan atau dengan sengaja membuat gol bunuh diri?….

    badminton tidak mengenal pemain pengganti dan pasti anda sudah tau ituuuuu………… dan itulah yang membedakan dia dengan sepakbola…..

    sungguhh…. anda sama seperti dengan kebanyakan orang di indonesia, selalu saja menyalahkan sebuah sistem untuk sebuah kesalahan yang sebenarnya dia sadari….

  17.   cr7 di barcaon 04 Agu 2012 at 12:21

    MENURUT SAYA..ATLIT YG DIKIRM ADALAH YG TERBAIK,,SIAP BERHADAPAN DENGAN SIAPAPUN,,, KENAPA HARUS TAKUT..WALAUPUN BERHADAPAN DGN PEMAIN NO 1… KENAPA HARUS MENGALAH UTK MENANG,,TDK ADA ITUUUU… LIAT TIMNAS INDONESIA WKT MAIN SABUN LAWAN THAILAND,,APAAA AKHIRNYA KALAH JG LAWAN SINGAPURA,,,CONTOHLAH SPANYOL DI EURO KMREN GAK PERDULI ,,POKONYA SAPU BERSIH KEMENANGAN,,MAU BERTEMU SIAPA NANTI POKONYA DIHADAPI,,ITU MENTAL ATLIT YG HARUSNYA DIKIRM,,, JANGAN CEMEN APALGI TAKUT… NGABISIN UANG NEGARA AJAAAA…

  18.   ucisanon 05 Agu 2012 at 21:47

    maen sabun ngatur strategi kotor…tidak selamanya manjur ..Ingat THOMAS CUP 1998…China lebih milih Indonesia di semi final..( mungkin waktu itu china lagi keki ama indonesia )…dia ngalah sama Denmark di penyisihan grup…sialnya malah China tumbang sama Indonesia ……dan Indonesia tampil perkasa mengalahkan Malaysia di Final…..

  19.   Hipokriton 05 Agu 2012 at 23:46

    orang bilang strategi mengalah untuk menang itu tidak sportif…kalau menurut saya malah menang untuk kalah itu yang TOLOL..ini sama saja ketika kita bermain catur, kita harus memakan umpan yang diberikan lawan..TOLOL?tentu…Sportif?tidak ada hubungannya, sportif itu tidak berbuat curang dalam pertandingan, dalam kasus bulutangkis ini saya tidak melihat ada kecurangan..hanya pemanfaatan celah yg diberikan..

    Sama seperti dalam pekerjaan, ketika anda pindah kerja atau pindah divisi untuk mengejar kelanjutan karir dan gaji (walaupun gaji anda sebelumnya lebih besar).apakah anda bilang itu curang?lain soal ketika anda menjegal rekan kerja anda untuk karir….masih banyak contoh2 lainnya yg sebenarnya kita terapkan dalam hidup.tidak usah munafik bro, kita semua diberikan otak, justru tidak menggunakannya itulah yang menjadi kesalahan.

  20.   denion 06 Agu 2012 at 08:53

    strategi dalam permainan itu adalah wajar, d dalam semua cabang olahraga, yang d sebut main sabun adalah untuk memperlancar jalan kemenangan dengan melihat siapa rival yang akan d hadapi, nah indonesia sadar bahwa china adalah rival terberat, sekarang PBSI harus robah sistem, dengan pembibitan dan pemupukan para atlit\’ kita agar lebih baik. jadi rival manapun sanggup kita hadapi tanpa ada strategi main sabun,….

  21.   ibenon 06 Agu 2012 at 10:25

    memang udh dsarnya indonesia bangsa yg penakut,,,,,,,, bangsa yg berani itu,,,, tidak kenal takut melawan siapa pun,,,, mo moyang nya chines ke,,,mo dedengkot nya,,,ke,,,, klw berani smua disikattttt…….

  22.   pancaon 06 Agu 2012 at 12:05

    setiap pertandingan harus pake strategi,,, jadi menurut saya sah-sah aja… tapi memang akan merugikan pihak lain ( penonton ). jadi memang sistem yang harus di rubah!!!

  23.   xyz12on 07 Agu 2012 at 08:18

    biasa aja kaleee. strategi kek gini udah biasa dlm sistem 1/2 kompetisi.
    kalo saya yg jadi para atlit itu, saya pun akan berbuat yg sama (saya yakin temen2 yg contra pun akan begitu) jadi penyelenggara seharusnya lebih pinter lagi..
    soal sportivitas? mereka udah berjuang mati2an utk sampe ke jenjang itu dan saya yakin ntar di partai berikutnya mrk pun akan bermain sebaik2nya.
    gitu aja repot.. salam buat yg contra .. (anda terlalu sok sportif tanpa tau artinya..)

  24.   Rusman S\'kaliton 07 Agu 2012 at 08:53

    Buat pak Paulus BS yang dengan konsisten membela kejadian ini demi (mungkin) pencapaian medali emas, saya hanya ingin memberi masukan saja.
    Apabila dalam pertandingan ternyata kedua team yang bertanding sama-sama tidak ingin menang, apa yang harus anda lakukan?
    Saran saya, lebih baik kedua team berdiskusi diluar lapangan untuk menentukan hasil pertandingan sehingga penonton di lapangan maupun yang melalui layar TV tidak akan menunggu suatu pertandingan yang seru.
    Badminton bukanlah jenis olahraga yang sekelas Sepakbola atau Basket, jadi yang perlu dijaga adalah nilai jual nya dengan bermain sportifitas. Kalau tidak, Badminton mungkin akan dihapus dari daftar jenis olahraga yang dipertandingkan di Olympiade.

  25.   DJOKO SANTOSOon 08 Agu 2012 at 02:57

    makanya kalo bikin system pertandingan yang valid, agar tdk bs di
    bs di licinkan pake sabun.
    sekelas olimpiade kok bikin system sembarang saja. ujung-ujungnya si atlit yg jadi korban.

  26.   paulusbson 08 Agu 2012 at 09:11

    Teman-teman…saya sangat berterima kasih pada teman-teman yang berkenan mampir dan memberikan komentarnya mengenai topik ini. Saya mendapatkan banyak manfaat dan sudut pandang yang bagus.

    Namun ada sedikit komentar (sekitar 3 buah) yang terpaksa tidak saya \’approve\’ karena menurut saya \’kurang layak\’ ditampilkan, khususnya karena bahasa yang digunakan cenderung kasar dan bahkan ada yang \’mengatai\’ pemberi komentar lain.

    Perbedaan pandangan/pendapat adalah hal yang biasa. Berargumentasi juga adalah hal yang biasa. Seharusnya, dan saya yakin, sebagian besar pembaca blog (apapun) bisa menghargai perbedaan dan menghargai argumentasi…

    Semoga 3 orang pemberi komentar itu bisa memaklumi hal ini. Sekali lagi, saya ucapkan penghargaan dan terima kasih bagi teman-teman yang telah berargumentasi dengan sehat di sini.

    Salam…

  27.   nunoon 08 Agu 2012 at 12:55

    Pertanyaan saya : \”adakah aturan di pertandingan tersebut yang menyatakan bahwa, pemain atau tim yang secara sengaja mengalah maka akan dikenai sanksi/diskualifikasi\”. Kalo aturan tersebut ada, ya sudah ga perlu di bahas lagi. Berarti pemain yang di diskualifikasi tersebut curang karena melanggar aturan..

  28.   badmintonloverson 08 Agu 2012 at 14:17

    Kiki..
    Saya sependapat dengan anda tentang sportifitas, tapi mohon maaf banyak percontohan yang tidak sesuai dengan apa saya maksudkan. maksud strategi tidak sperti itu, atlit cari medali tidak skedar menang habisin tenaga jor2an, uda lemes musuh kuat menanti, ya kalo sistemnya kayak gitu mending hemat tenaga buat pertandingan berikutna dengan rentang waktu yang pendek, masalah dianggap pilih lawan itu bonus dari 2 x kemenangan/kerja keras sebelumnya. dan untuk juara yang harus melalui pertandingan berikutnya yang pasti musuh lebih kuat, toh kedepan kalo uda sistem KO pasti akan habis2an.
    Saya ga belain atlit, tapi saya lebih sorotin sistemnya yang mudah2an ditinjau ulang, kembali sistem gugur, agar kedepan bisa menyaksikan pertandingan badminton yang all out, panitia, pemain, penonton dan negara tidak ada yang dirugikan (kalo badminton masih diikutsertakan).

  29.   badmintonloverson 08 Agu 2012 at 14:30

    Atlit yang ingin medali, negara yang berharap prestasi, penonton yang ingin tontonan seru, semuanya berantakan karena sistem baru yang tak teruji. kenapa ga diuji coba dulu diajang lebih kecil ga langsung di pakai diajang seakbar olimpiade. sdh bagus dulu uji coba dulu penggantian sistem skor dari 2 x 15, 3x 7 s/d 2 x 21 reli point..

  30.   darwinnason 11 Agu 2012 at 21:17

    Seperti pernah di sampaikan seniornya, Susi Susanti, tak perlu menghindari lawan. Juara sejati harus siap berhadapan dengan siapa pun. Memang pemilik komentar itu telah mengalahkan semua pemain terbaik bulutangkis putri dunia di eranya. Nah, masih menurut Susi, pada akhirnya anda akan berhadapan dengan pemain terbaik, di sanalah kemampuan diuji.

  31.   darwinnason 11 Agu 2012 at 22:08

    Cabang bulutangkis diprediksi hanya akan aman sampai Olimpiade 2016. Sejumlah alasan yang menjadikan bulutangkis dievaluasi Komite Olimpiade Internasional (IOC) adalah dominasi China di semua nomor, skandal main mata empat pasangan ganda putri, dan semakin rendahnya rating televisi maupun peliputan media pada cabang tersebut.

    Setelah Olimpiade 2016, posisi bulu tangkis akan dievaluasi. Artinya, belum tentu bulu tangkis akan ikut ambil bagian pada Olimpiade 2020. Komite Olimpiade Internasional (IOC) memang akan melakukan evaluasi terhadap keberadaan Bulu Tangkis paska Olimpiade London 2012. Di samping tidak berkembang atau didominasi satu negara, scandal kemarin juga menjadi pertimbangan. Rugi dech kita….

  32.   Si Alanon 12 Agu 2012 at 18:01

    Wajar tanpa pengecualian karena bagian dari strategi untuk meraih kemenangan, yang tidak fair adalah sistem pertandingannya dan panitianya. Untuk sekelas olimpiade seharusnya mereka sudah tahu resiko sitem pertandingan akan terjadi seperti itu.

  33.   wulanon 13 Agu 2012 at 18:39

    kelak kalo mau mengalah, kendorkan senar raket, jadi pukulannya kurang akurat, mainnya sungguh2

  34.   ayenkon 19 Agu 2012 at 07:59

    apapun yg terjadi kita harus mendukung atlit kita, krna itu sudah terjadi. meskipun bagi saya, cara yang mereka gunakan itu tidak benar.
    yang penting Lain kali jgan ada lagi yang seperti itu. ujung2 nya medali tdk dapat, yang ada malu besar…….. Istilah mengalah untuk menang akhirnya berganti menjadi mengalah untuk malu…..

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply